Rabu, 27 Juli 2016

Diposting oleh Rani Bataviani di 02.47 0 komentar
Kegiatan Kemaritiman dan Perdagangan Ternate dan Tidore 1512 - 1652
1.      Pendahuluan
Pada masa Kerajaan-kerajaan Islam muncul, perdagangan rempah-rempah sangat ramai, baik jalur perdagangan antar pulau di Nusantara terutama pada jalur perdagangan Jawa-Maluku dan Makassar-Maluku, menjadi bagian yang inheren dalam konteks perdagangan nasional.[1] Bangsa Barat yang pertama datang di Nusantara adalah bangsa Portugis, dengan semangat ekspansi dan jiwa berdagang berhasil merintis hubungan dagang antara Eropa dan Nusantara.[2] Sebelum tahun 1514, Portugis menyebut Maluku sebagai as ilhas do cravo atau bisa di sebut dengan kepulauan cengkeh. Pedagang-pedagang Arab menyebutnya Jazirat al-Muluk (daerah dari banyak tuan). Cengkeh hanya terdapat di kepulauan Maluku.[3] Maluku, terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil, didominasi oleh pulau kembar Ternate dan Tidore. Kerajaan Ternate sebagai pemimpin Uli Lima, yaitu persekutuan lima bersaudara dengan wilayahnya mencakup pulau-pulau Ternate, Obi, Bacan, Seram, dan Ambon. Sementera itu, Kerajaan Tidore memimpin Uli Siwa, yang berarti persekutuan sembilan bersaudara dengan wilayahnya mencakup pulau-pulau Makayan, Jailolo atau Halmahera, dan pulau-pulau di antara daerah itu sampai dengan Irian Barat. Ternate dan Tidore mempunyai kekayaan alam yang unik dan unggul, yaitu pohon cengkeh yang daunnya menyelimuti lereng-lereng gunung-gunung berapi  diantara pulau itu.[4]
Cengkeh merupakan komoditi unggulan di kepualaun Maluku, Cengkeh mempunyai manfaat untuk ramuan pewangi / parfum, pengharum, obat-obatan, kosmetika, dan zat perangsang gairah seks yang sudah sekian lama sehingga mengundang pedagang dari segala penjuru sampai Cina dan Arab. Hal tersebut membuat orang Maluku menjadi korban para pemburu duit. Puncak dari penindasan itu adalah pada pertengahan abad ke-17 dengan penghancuran total pohon-pohon cengkeh secara sistematis oleh Belanda. Cengkeh yang mempunyai kualitas terbaik adalah yang berasal dari Ternate, Tidore, Motir, Bacan, dan Macan.[5]

2.      Armada Laut dan Teknoogi Kapal Kerajaan Ternate dan Tidore
Keberadaan armada laut menjadi kebutuhan yang mendasar dalam membangun Ternate dan Tidore. Halmahera merupakan daratan besar yang menyediakan bahan-bahan kebutuhan dasar pembuatan perahu. Keberadaan masyarakat begitu penting, selain sebagai penyedia kebutuhan perahu untuk kerajaan, sekaligus penggerak armada lautnya.
Pada abad ke-16, Kesultanan Ternate tampil lebih unggul. Masyarakat Halmahera dimanfaatkan sebagai angkatan laut kesultanan. Sehingga, kebesaran sultan Ternate Babullah yang sebagai “Raja 72 Pulau” tidak lepas dari peran masyarakat Halmahera.[6]
Jenis-jenis perahu yang ada di Maluku adalah jenis juanga, lakafiunu, korakora, kalulus, dan perahu kecil. Kapal juanga adalah kapal kebesaran untuk raja, yang semuanya digerakkan oleh pendayung. Palka dan luas panjang antara 18-20 depa. Lambung kiri dan kanan terdapat 200 pendayung dan hampir 100 orang prajurit bersenjata. Ada yang lebih kecil lagi ukuran juanga, berukuran antara 10-11 depa.
Bentuk kapal lakafiunu menyerupai juanga. Awaknya dipilih dari orang-orang yang kuat, baik untuk pengayuh maupun baileu. Geladak kapal ditutup dengan rotan dan papan yang menyeupai tandu. Kapal jenis ini merupakan yang tak mudah terkalahkan karena bahan pembuatan kapal ini sangat kuat dan tidak mudah rusak apabila ditabrak.
Kapal kamamoni dan korakora adalah kapal serupa dengan gallei. Kapal jenis ini tidak terlalu panjang, juga lebar dan tingginya tidak seberapa dibandingkan dengan juanga dan lakafiunu. Jumlah pendayungnya antara 40-70 orang, dengan 25 orang baileu. Kapal jenis lain adalah rorehe dan perahuyang pendayungnya berkisar 15-30 orang, dengan 10 oang baileu. Semuanya memiliki cadik. Berbeda dengan kapal-kapal sebelumnya, kapal kalulus tidak bercadik. Jumlah pendayungnya antara 20-50 orang, serta 10, 15, atau 20 baileu.
Perahu nyonyau, merupakan perahu kecil yang digunakan untuk menangkap ikan. Perahau ini digerakkan oleh 3-12 pendayung, dengan 2 orang bersenjata. Perahu ini juga sering dibawa oleh kapal juanga, lakanufu, dan korakora sebagai pelengkap. Perahu sampan, merupakan perahu kecil yang digunakan untuk mengangkat angkutan.[7]
Jailolo terdapat pelabuhan yang cukup terkenal. Pelabuhan tersebut cukup terkenal karena satu-satunya pelabuhan di Jailolo serta di daerah itu terdapat bahan makanan yang banyak.[8]
Pada abad ke-17, korakora dan arumbai, merupakan perahu yang pertama digunakan untuk perang, sedangkan yang kedua adalah untuk pengangkutan barang dan penumpang. Korakora dimanfaatkan oleh raja-raja di Maluku untuk melaksanakan misi perluasan kekuasaan, orang Eropa menggunakannnya ketika memaksakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku abad ke-17, melalui kebijakan hongi.

3.      Komoditi Ternate dan Tidore
Pohon cengkeh, cemara dari hutan hujan tropis, tumbuh hanya pada lima pulau vulkanik kecil segera di lepas pantai barat Halmahera: Ternate, Tidore, Motir, Makian, dan Batjan. Rempah-rempah yang kita sebut cengkeh adalah kering belum dibuka bunga-tunas pohon ini. Pohon pala, juga hijau tropis, sama-sama langka. Ini hanya tumbuh pada beberapa di Kepulauan Banda (yang ada sepuluh), yang menempati total empat puluh empat persegi kilometer di tengah-tengah Laut Banda. Apa yang kita sebut pala adalah kernel ditemukan dalam biji, dan rempah-rempah yang dikenal sebagai bunga pala adalah selaput tipis dari kulit kenyal yang mencakup kernel.[9] Besi-besi dalam jumlah yang besar didatagkan dari kepulauan Banggai yang sudah menjadi kampak-kampak besi, parang, pedang, dan pisau. Emas didatangkan di kepulauan lain. pulau ini juga mempunyai sedikit gading dan kain kasar lokal. Banyak Burung Beo berasal dari Kepulauan Morotai (Mor), dan Beo putih berasal dari Seram.[10]
Kepulauan Tidore menghasilkan kurang lebih 1400 bahar cengkih setiap tahunnya. Kepulauan ini juga menghasilkan bahan pokok makanan seperti beras, daging, dan ikan.[11] Di Pulau Moti, yang wilayah tersebut dibawah kekuasaan Ternate dan sebagian Tidore menghasilkan 1.200 bahar cengkeh tiap tahunnya. Raja Tidore maupun Pulau Moti membawa hasil cengkeh tersebut ke Pulau Makian untuk dijual dengan menggunakan kapal jung.[12]

4.      Kegiatan perdagangan Ternate-Tidore dengan PortugisFransisco Serrao tiba di kepualaun Maluku pada 1512. Serrao menjadi mitra dagang dan juga penasihat sultan Ternate hingga akhir hayatnya ada tahun 1523. Ekspedisi ke Malaku yang dipandu oleh orang Melayu tersebut melintasi Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil sebelum menuju ke utara Banda melintasi Pulau Ambon. Ketika kapalnya berlabuh di Gresik, Serrao menikahi wanita setempat, yang kemudian menemaninya sepanjang perjalanan berikutnya. Pada tahun 1512, kapalnya karam namun ia tetap mencoba mencapai Pulau Luco-Pino (Hitu), di utara Ambon. Para penjelajah itu tetap berada di Banda selama sebulan, membeli dan mengisi kapalnya dengan pala, jugacengkeh yang banyak dijual di Banda. Serrao meninggalkan Banda dengan menaiki jung Cina yang dibeli dari pedagang setempat sebagai pengganti kapalnya yang hilang. Serrao terus menjelajah ke dalam Kepulauan Maluku. Dengan 9 orang Portugis dan 9 penduduk Nusantara, kapal itu tenggelam akibat angin ribut dan pecah di sebuah batu karang lepas pantai sebuah pulau. Percobaannya untuk bergabung kembali dengan kapal De Abreu terhambat oleh badai dan Serrao terdampar di Pulau Ternate.[13]
 Setelah kedatangan Serrao, hubungan dagang antara Maluku dan Malaka semakin ramai. Awal tahun 1513, datang pula armada dagang Portugis di Ternate. Antonio de Miranda de Azevado, panglima kapal dagang Portugis, membuka pos dagang kecil di Maluku dan di Pulau Bacan, dengan menempatkan beberapa saudagar yang menetap dan juga menjalin hubungan komersial secara berkesinambungan.[14] Fransisco Serrao diterima baik oleh Sultan Ternate maupun Sultan Tidore, Serrao menerima undangan untuk menegakkan kehadiran orang Portugis yang permanen.[15]  Bangsa Portugis tertarik dengan rempah-rempah seperti bunga pala, buah pala, dan cengkeh dari kepulauan Maluku. sejak tahun 1512, mereka ingin menjejakkan kaki di Maluku secara permanen dan juga seringkali terlibat dalam konflik-konflik local. Senjata api yang dibawa oleh Portugis telah mencuri hati para penduduk baik dari Ternate dan Tidore sehingga mereka menjadi sekutu Portugis. Orang Spanyol yang menetap di Filipina juga tertarik atas rempah-rempah yang terdapat di pulau Maluku.[16] Sehingga Portugis menjadikan Ambon sebagai pusat kegiatannya selama di Nusantara, pada tahun 1545-1546, Francis Xavier memulai aktivitas misionarisnya dan menjadikan Ambon sebagai peletak dasar kekristenan di Ambon dan sekitarnya, termasuk Ternate dan Tidore.[17] Orang-orang Portugis di Kepulauan Maluku menyaingi para conquistador Spanyol di Meksiko dan Peru terutama dalam sifat buruknya, sehingga Portugis gagal melakukan hegemoni di kepulauan Maluku dengan sepenuhnya.[18]
Rakyat Ternate memperoleh kekuasaan beberapa saat berkat kehadiran orang Portugis menjadi sadar bahwa dominasi Barat tersebut merugikan dan menyengsarakan mereka. Pengaruh tersebut menular ke Tidore termasuk ke seluruh kepulauan Maluku dan Sulawesi serta Papua,[19] sehingga hubungan baik antara Portugis-Ternate melalui Serrao dan Bolief hancur. Portugis berusaha membuat hubungan antara Ternate dan Portugis membaik, sehingga Kapten Antonio de Brito tiba di lepas pantai Ternate pada akhir bulan Mei, pada tahun 1522 mereka disambut oleh armada kora-kora yang membawa Wali Raja, Pangeran Taruwese (merupakan saudara lelaki Sultan Bolief), sejumlah punggawa istana, pemain usik, dan prajurit bersenjata lengkap. Akan tetapi de Brito melakukan perlawanan terhadap Ternate diakibatkan oleh adanya pengingkaran perjanjian pembuatan benteng oleh Pangeran Tawurese dan Ibu Ratu serta menuduh Wali Raja dan Ibu Ratu tersebut secara terbuka. Perlawanan tersebut berhasil digagalkan oleh Ternate dan de Brito segera kembali ke Goa dengan Garcias Hendrik yang menjemputnya di Ternate pada tahun 1525.
Kapten Gonzalo Pereira tiba di Ternate pada awal tahun 1530 dengan tiga kapal, 70 serdadu dan mandate untuk mengadakan suatu perombakan di Ternate. Kapten Pereira mengadakan suatu kesepakatan terhadap Ibu Ratu untuk membebaskan anaknya yang dipenjara dalam benteng Portugis serta dapat menududuki takhta dengan syarat harus mengantarakan hasil seluruh panen cengkeh terhadap Portugis, menyelesaikan kembali pembangunan benteng yang belum selesai dan menegakkan kembali sistem ekonomi yang keras. Akan tetapi, usaha tersebut gagal dan Kapten Pereira mendapatkan perlawanan dari pihak Ternate maupun Tidore sehingga dia terbunuh pada tanggal 27 Mei 1532. Portugis pergi dari Ternate pada tanggal 15 Juli 1575 setelah diusir oleh Sultan Baabulah akibat terbunuhnya Sultan Hairun dibunuh oleh orang Portugis.[20]

5.      Kegiatan perdagangan antara Ternate-Tidore dengan Spanyol
Pada 6 November 1521, bangsa Spanyol tiba di Pulau Tidore yang di komandai oleh Kapten Juan Sebastian del Cano dengan kapal yang bernama Trinidad dan Victoria. Del Cano melanjutkan perjalanan yang dilakukan oleh Ferdinand Magellan yang tidak berhasil sampai pada Kepulauan Maluku diakibatkan terbunuhnya dia di Filipina pada tahun 1521 oleh Lapu-Lapu, seorang kepala suku Mactan yang terletak di Filipina karena menolak kolonialisasi oleh bangsa Spanyol.[21] Setibanya del Cano di Maluku, ia memamerkan persenjataan, kemewahan seremonial dan kemurahan hati yang membuat orang Maluku menganggap bahwa orang Spanyol setara dengan bangsa Portugis tetapi bangsa Spanyol bisa dikatakan lebih sopan daripada orang Portugis.[22] Orang Spanyol memamerkan barang dagangannya dan ditukarkan dengan cengkeh. Untuk 10 ukuran tertentu kain merah yang bermutu tinggi yang berasal dari Kalkuta, mereka menerima dengan satu bahar cengkeh (1 bahar = 600 pon) dengan 50 gunting kain merah berkualitas tinggi, tiga gong kuningan dari Spanyol ditukarkan dengan dua bahar cengkeh. Sultan Alamansur mengirimkan hadiah kepada Spanyol yaitu berupa kambing, unggas, ikan dan buah-buahan.[23]
Rakyat Ternate juga berusaha untuk menjalin kerjasama dengan Spanyol sehingga rakyat Ternate menjual cengkeh kepada Spanyol dengan harga yang murah dari yang ditawarkan rakyat Tidore kepada Spanyol, akan tetapi bangsa Spanyol tidak membeli cengkeh yang ditawarkan oleh rakyat Ternate karena takut akan menyinggung perasaan rakyat Tidore.

6.      Kontak Pertama Kali antara Ternate dan Tidore dengan Inggris
Sir Francis Drake tiba di Ternate pada tahun 1579 dan diterima baik oleh Sultan Baabulah. Drake melewati benua pesisir Benua Amerika dan hinggap di Kepulauan Maluku.[24] orang Inggris melayari tersebut dengan kapal Galleon yang dinamakan Golden Hind dan empat kapal yang lain yang bermuatan harta yang mereka ambil dari armada utama Spanyol. Sultan dan Drake merasakan adanya daya tarik timbal balik dalam hubungan antara mereka berdua,[25] sehingga Sultan Baabulah bersumpah untuk mengadakan persahabatan dan kesetiaan yang kekal kepada Ratu Elisabeth. Sultan Baabulah memberikan cincin meterai berhias batu merah delima kepada Ratu Elizabeth Tudor lewat Drake, Drake juga memberikan meriam serta kain tekstil untuk Sultan Ternate. Orang Inggris mendapatkan kemurahan hati dari penguasa Ternate yaitu berupa beras yang jumlahnya banyak, ayam, tebu, gula cair yang belum diolah, buah yang dinamakan figo , kelapa, dan tepung sagu untuk perbekalan di kapal untuk kembali ke Inggris. Drake kemudian kembali berlayar setelah memuat sedikit cengkeh di kapalnya.

7.      Kegiatan Monopoli Perdagangan Belanda /  VOC di Ternate dan Tidore
Pada tahun 1603, VOC melakukan perjanjian yang abadi dengan Hitu untuk saling menghadapi musuh bersama yaitu bangsa Portugis. Perjanjian tersebut diperbaharui pada 1609 yang memberikan kedudukan kepada bangsa Hitu sebagai sekutu dan bukan sebagai bawahan serta Kapitan Hitu Tepil diakui sebaga penguasa wilayah.[26]  Pada tanggal 10 Juni 1606, Belanda berhasil mendirikan benteng pertama kali di Jailolo dan dinamakan dengan benteng Fort Malayo dengan enam meriam kuningan di tempat laganya.[27] Pada 1607 VOC juga membuat perjanjian dengan Ternate yang secara formal memegang hegemoni di Seram Barat, termasuk Luhu, Kambelo, Lusidi, Hitu, dan Maluku Selatan. Dalam kontrak itu juga VOC berhasil memperoleh monopoli dalam perdagangan cengkeh.
Terjadi pelanggaran dalam perjanjian yang dilakukan oleh raja-raja sehingga membangkitkan konflik dengan VOC. Sehingga VOC mengadakan perjanjian tersendiri dengan raja-raja di Seram Barat pada tahun 1609 dikarenakan kekuasaan Ternate sudah tak efektif lagi. Sehingga sistem monopoli yang dipaksakan oleh VOC menimbulkan pertentangan, penghindaran, dan pergolakan di kalangan rakyat. VOC melakukan provokasi dengan penebangan pohon cengkeh dan pala dalam hongi-tochten (hongi yang berarti armada atau angkatan kapal laut yang berasal dari bahasa Ternate). Kompeni tersebut mengerahkan tenaga laki-laki untuk melakukan penebangan pohon cengkeh dan pala yang kelebihan, reorganisasi struktur pemerintahan dengan menghapus sistem  “empat serangkai” dan jabatan Kapitan-Hitu serta aman (satuan sosial, komunitas, gemeenschap) dipindahkan ke daerah pantai pada tahun 1643.
Tanggal 10 Mei 1651 dilancarkan serangan-serangan terhadap loji-loji VOC tetapi tinggal loji di Luhu yang dapat dipertahankan oleh VOC. Loji tersebut pada akhirnya jatuh ke tangan pemberontak yaitu di Kambelo, Assahudi, dan Lessidi. Peristiwa tersebut membuat VOC membinasakan kebun cengkeh di daerah-daerah pemberontakan. Siasat tersebut sesuai dengan kondisi- kondisi yang dipaksakan kepada Mandarshah dalam perjanjian 31 Januari 1652, yaitu antara lain penanaman cengkeh di daerah dalam kerajaan Ternate dilarang dan hanya diperbolehkan di Ambon dan daerah VOC lainnya. Jabatan Kimelaha di Seram dihapus, daerah itu diperintah langsung oleh gubernur VOC. VOC bebas mendirikan benteng di mana saja, melarang semua orang asing mengunjungi daerah tersebut dan sebagai ganti ganti rugi Mandarshah menerima 12.000 rial setiap tahun.[28]

8.      Kesimpulan
Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan daerah perdagangan internasional yang diminati banyak bangsa terutama pada rempah-rempah yang dihasilkan di wilayah tersebut. Ternate dan Tidore merupakan daerah penghasil cengkeh dan pala yang terbaik dan satu-satunya yang tumbuh di wilayah tersebut. Sehingga banyak sekali yang berminat untuk mencari cengkeh dan pala termasuk komoditi yang lain yang telah mencuri perhatian bangsa asing termasuk bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda yang ingin memonopoli wilayah tersebut untuk memperoleh keuntungan dalam kegiatan perdagangan serta di dalam negaranya.
Dengan sifat ramah dan terbukanya Kesultanan Ternate dan Tidore telah membawakan mereka ke dalam konflik yang berkepanjangan, seperti perlawanan dengan Portugis karena Portugis ingin memonopoli perdagangan di wilayah Ternate serta VOC yang ingin menguasai wilayah Ternate dan Tidore dan juga sekitarnya. VOC juga telah membakar dan membinasakan pohon cengkeh sebagai ketidak patuhan mereka terhadap VOC dalam melakukan perjanjian maupun kerjasama.


Daftar Pusaka
Buku
Hanna, Willard A dan Des Alwi. Ternate dan Tidore: Masa Lalu Penuh Gejolak (Jakarta: Sinar Harapan, 1996).
Hamid, Abd Rahman. Sejarah Maritim Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013).
Kartodirdjo, Sartono. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014).
Morga, Antonio de. The Phillipines Islands, Mollucas, Siam, Cambodia, Japan, and China, at The Close of the Sixteenth Century (New York: Cambridge University Press, 2009).
Pires, Tome. Suma Oriental dan Buku Francisco Rodrigues (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015).
Ricklefs, M.C ., Bruce Lockhart, Albert Lau, Portia Reyes, dan Maitrii Aung Thwin. Sejarah Asia Tenggara (Depok: Komunitas Bambu, 2013)
Sulistiyono, Singgih Tri. Sejarah Maritim Indonesia (Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2004)
Tarling, Nicholas. The Cambridge History of Southeast Asia Volume 1: From Early Times to c.1800 (New York: Cambridge University Press, 1994).
Internet
https://en.wikipedia.org/wiki/Francisco_Serr%C3%A3o
https://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Drake




[1] Singgih Tri Sulistiyono, Sejarah Maritim Indonesia, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2004. Hal. 30.
[2] Ibid., hal. 36.
[3] Abd Rahman Hamid, Sejarah Maritim Indonesia, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013. Hal. 175.
[4] Willard A. Hanna dan Des Alwi, Ternate dan Tidore: Masa Lalu Penuh Gejolak, Jakarta: Sinar Harapan, 1996. Hal. 1-2.
[5] Ibid,. hal. 3.
[6] Abd Rahman Hamid, Op. Cit.,Hal. 192.
[7] Ibid., hal. 194.
[8] Tome Pires, Suma Oriental dan Buku Francisco Rodrigues, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015. Hal. 305.
[9] Nicholas Tarling, The Cambridge History of Southeast Asia Volume 1: From Early Times to c.1800, New York: Cambridge University Press, 1994. Hal. 209.
[10] Tome Pires, Op. cit., Hal. 299.
[11] Ibid., hal. 300.
[12] Ibid., hal. 301.
[13] https://en.wikipedia.org/wiki/Francisco_Serr%C3%A3o,  diakses pada tanggal 29 Mei 2016, pukul 09.21 WIB
[14] Tome Pires, Op. cit., Hal. 195.
[15] Willard A. Hanna dan Des Alwi, Op. cit., hal. 26.
[16] M.C Ricklefs, Bruce Lockhart, Albert Lau, Portia Reyes, dan Maitrii Aung Thwin, Sejarah Asia Tenggara, Depok: Komunitas Bambu, 2013. Hal. 171.
[17] M.C Ricklefs, Bruce Lockhart, Albert Lau, Portia Reyes, dan Maitrii Aung Thwin, Op. cit., hal. 172.
[18] Willard A. Hanna dan Des Alwi, Op. cit., hal. 13.
[19] Ibid
[20] Ibid., hal. 89.
[21] Antonio de Morga, The Phillipines Islands, Mollucas, Siam, Cambodia, Japan, and China, at The Close of the Sixteenth Century, New York: Cambridge University Press, 2009. Hal. 14.
[22] Willard A. Hanna dan Des Alwi, Op. cit., hal. 18.
[23] Ibid., hal. 21.
[24] https://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Drake, diakses pada tanggal 29 Mei 2016, pada pukul 14.01 WIB
[25] Ibid., hal. 91.
[26] Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014. Hal. 206.
[27] Willard A. Hanna dan Des Alwi, Op. cit., hal. 153.
[28] Sartono Kartodirdjo.,Op. cit.,hal. 213
 

The Beautifull life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos