Kegiatan Kemaritiman dan
Perdagangan Ternate dan Tidore 1512 - 1652
1. Pendahuluan
Pada masa Kerajaan-kerajaan Islam
muncul, perdagangan rempah-rempah sangat ramai, baik jalur perdagangan antar
pulau di Nusantara terutama pada jalur perdagangan Jawa-Maluku dan
Makassar-Maluku, menjadi bagian yang inheren dalam konteks perdagangan
nasional.[1]
Bangsa Barat yang pertama datang di Nusantara adalah bangsa Portugis, dengan semangat
ekspansi dan jiwa berdagang berhasil merintis hubungan dagang antara Eropa dan
Nusantara.[2]
Sebelum tahun 1514, Portugis menyebut Maluku sebagai as ilhas do cravo atau bisa di sebut dengan kepulauan cengkeh.
Pedagang-pedagang Arab menyebutnya Jazirat
al-Muluk (daerah dari banyak tuan). Cengkeh hanya terdapat di kepulauan
Maluku.[3]
Maluku, terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil, didominasi oleh pulau kembar
Ternate dan Tidore. Kerajaan Ternate sebagai pemimpin Uli Lima, yaitu
persekutuan lima bersaudara dengan wilayahnya mencakup pulau-pulau Ternate,
Obi, Bacan, Seram, dan Ambon. Sementera itu, Kerajaan Tidore memimpin Uli Siwa,
yang berarti persekutuan sembilan bersaudara dengan wilayahnya mencakup
pulau-pulau Makayan, Jailolo atau Halmahera, dan pulau-pulau di antara daerah
itu sampai dengan Irian Barat. Ternate dan Tidore mempunyai kekayaan alam yang
unik dan unggul, yaitu pohon cengkeh yang daunnya menyelimuti lereng-lereng
gunung-gunung berapi diantara pulau itu.[4]
Cengkeh merupakan komoditi unggulan
di kepualaun Maluku, Cengkeh mempunyai manfaat untuk ramuan pewangi / parfum,
pengharum, obat-obatan, kosmetika, dan zat perangsang gairah seks yang sudah
sekian lama sehingga mengundang pedagang dari segala penjuru sampai Cina dan
Arab. Hal tersebut membuat orang Maluku menjadi korban para pemburu duit.
Puncak dari penindasan itu adalah pada pertengahan abad ke-17 dengan
penghancuran total pohon-pohon cengkeh secara sistematis oleh Belanda. Cengkeh
yang mempunyai kualitas terbaik adalah yang berasal dari Ternate, Tidore,
Motir, Bacan, dan Macan.[5]
2. Armada Laut dan Teknoogi Kapal Kerajaan
Ternate dan Tidore
Keberadaan armada laut menjadi
kebutuhan yang mendasar dalam membangun Ternate dan Tidore. Halmahera merupakan
daratan besar yang menyediakan bahan-bahan kebutuhan dasar pembuatan perahu.
Keberadaan masyarakat begitu penting, selain sebagai penyedia kebutuhan perahu
untuk kerajaan, sekaligus penggerak armada lautnya.
Pada abad ke-16, Kesultanan Ternate
tampil lebih unggul. Masyarakat Halmahera dimanfaatkan sebagai angkatan laut
kesultanan. Sehingga, kebesaran sultan Ternate Babullah yang sebagai “Raja 72
Pulau” tidak lepas dari peran masyarakat Halmahera.[6]
Jenis-jenis perahu yang ada di
Maluku adalah jenis juanga, lakafiunu, korakora, kalulus, dan perahu kecil.
Kapal juanga adalah kapal kebesaran untuk raja, yang semuanya digerakkan oleh
pendayung. Palka dan luas panjang antara 18-20 depa. Lambung kiri dan kanan
terdapat 200 pendayung dan hampir 100 orang prajurit bersenjata. Ada yang lebih
kecil lagi ukuran juanga, berukuran antara 10-11 depa.
Bentuk kapal lakafiunu menyerupai
juanga. Awaknya dipilih dari orang-orang yang kuat, baik untuk pengayuh maupun
baileu. Geladak kapal ditutup dengan rotan dan papan yang menyeupai tandu.
Kapal jenis ini merupakan yang tak mudah terkalahkan karena bahan pembuatan
kapal ini sangat kuat dan tidak mudah rusak apabila ditabrak.
Kapal kamamoni dan korakora adalah
kapal serupa dengan gallei. Kapal jenis ini tidak terlalu panjang, juga lebar
dan tingginya tidak seberapa dibandingkan dengan juanga dan lakafiunu. Jumlah
pendayungnya antara 40-70 orang, dengan 25 orang baileu. Kapal jenis lain
adalah rorehe dan perahuyang pendayungnya berkisar 15-30 orang, dengan 10 oang
baileu. Semuanya memiliki cadik. Berbeda dengan kapal-kapal sebelumnya, kapal
kalulus tidak bercadik. Jumlah pendayungnya antara 20-50 orang, serta 10, 15,
atau 20 baileu.
Perahu nyonyau, merupakan perahu
kecil yang digunakan untuk menangkap ikan. Perahau ini digerakkan oleh 3-12
pendayung, dengan 2 orang bersenjata. Perahu ini juga sering dibawa oleh kapal
juanga, lakanufu, dan korakora sebagai pelengkap. Perahu sampan, merupakan
perahu kecil yang digunakan untuk mengangkat angkutan.[7]
Jailolo terdapat pelabuhan yang
cukup terkenal. Pelabuhan tersebut cukup terkenal karena satu-satunya pelabuhan
di Jailolo serta di daerah itu terdapat bahan makanan yang banyak.[8]
Pada abad ke-17, korakora dan
arumbai, merupakan perahu yang pertama digunakan untuk perang, sedangkan yang
kedua adalah untuk pengangkutan barang dan penumpang. Korakora dimanfaatkan
oleh raja-raja di Maluku untuk melaksanakan misi perluasan kekuasaan, orang
Eropa menggunakannnya ketika memaksakan monopoli perdagangan rempah-rempah di
Maluku abad ke-17, melalui kebijakan hongi.
3. Komoditi Ternate dan Tidore
Pohon cengkeh, cemara dari hutan
hujan tropis, tumbuh hanya pada lima pulau vulkanik kecil segera di lepas
pantai barat Halmahera: Ternate, Tidore, Motir, Makian, dan Batjan.
Rempah-rempah yang kita sebut cengkeh adalah kering belum dibuka bunga-tunas
pohon ini. Pohon pala, juga hijau tropis, sama-sama langka. Ini hanya tumbuh
pada beberapa di Kepulauan Banda (yang ada sepuluh), yang menempati total empat
puluh empat persegi kilometer di tengah-tengah Laut Banda. Apa yang kita sebut
pala adalah kernel ditemukan dalam biji, dan rempah-rempah yang dikenal sebagai
bunga pala adalah selaput tipis dari kulit kenyal yang mencakup kernel.[9]
Besi-besi dalam jumlah yang besar didatagkan dari kepulauan Banggai yang sudah
menjadi kampak-kampak besi, parang, pedang, dan pisau. Emas didatangkan di
kepulauan lain. pulau ini juga mempunyai sedikit gading dan kain kasar lokal.
Banyak Burung Beo berasal dari Kepulauan Morotai (Mor), dan Beo putih berasal
dari Seram.[10]
Kepulauan Tidore menghasilkan
kurang lebih 1400 bahar cengkih setiap tahunnya. Kepulauan ini juga
menghasilkan bahan pokok makanan seperti beras, daging, dan ikan.[11]
Di Pulau Moti, yang wilayah tersebut dibawah kekuasaan Ternate dan sebagian
Tidore menghasilkan 1.200 bahar cengkeh tiap tahunnya. Raja Tidore maupun Pulau
Moti membawa hasil cengkeh tersebut ke Pulau Makian untuk dijual dengan
menggunakan kapal jung.[12]
4. Kegiatan perdagangan Ternate-Tidore
dengan PortugisFransisco Serrao tiba di kepualaun Maluku pada 1512. Serrao
menjadi mitra dagang dan juga penasihat sultan Ternate hingga akhir hayatnya
ada tahun 1523. Ekspedisi ke Malaku yang dipandu oleh orang Melayu tersebut melintasi Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil sebelum menuju ke utara Banda
melintasi Pulau Ambon.
Ketika kapalnya berlabuh di Gresik,
Serrao menikahi wanita setempat, yang kemudian menemaninya sepanjang perjalanan
berikutnya. Pada tahun 1512,
kapalnya karam namun ia tetap mencoba mencapai Pulau Luco-Pino (Hitu), di utara Ambon.
Para penjelajah itu tetap berada di Banda selama sebulan, membeli dan mengisi
kapalnya dengan pala, jugacengkeh yang banyak dijual di Banda. Serrao meninggalkan Banda dengan
menaiki jung Cina yang dibeli dari pedagang setempat
sebagai pengganti kapalnya yang hilang. Serrao terus menjelajah ke dalam Kepulauan
Maluku. Dengan 9 orang
Portugis dan 9
penduduk Nusantara, kapal itu tenggelam akibat angin ribut dan pecah di sebuah
batu karang lepas pantai sebuah pulau. Percobaannya untuk bergabung kembali
dengan kapal De Abreu terhambat oleh badai dan Serrao terdampar di Pulau Ternate.[13]
Setelah
kedatangan Serrao, hubungan dagang antara Maluku dan Malaka semakin ramai. Awal
tahun 1513, datang pula armada dagang Portugis di Ternate. Antonio de Miranda
de Azevado, panglima kapal dagang Portugis, membuka pos dagang kecil di Maluku
dan di Pulau Bacan, dengan menempatkan beberapa saudagar yang menetap dan juga
menjalin hubungan komersial secara berkesinambungan.[14]
Fransisco Serrao diterima baik oleh Sultan Ternate maupun Sultan Tidore, Serrao
menerima undangan untuk menegakkan kehadiran orang Portugis yang permanen.[15]
Bangsa Portugis tertarik dengan
rempah-rempah seperti bunga pala, buah pala, dan cengkeh dari kepulauan Maluku.
sejak tahun 1512, mereka ingin menjejakkan kaki di Maluku secara permanen dan
juga seringkali terlibat dalam konflik-konflik local. Senjata api yang dibawa
oleh Portugis telah mencuri hati para penduduk baik dari Ternate dan Tidore
sehingga mereka menjadi sekutu Portugis. Orang Spanyol yang menetap di Filipina
juga tertarik atas rempah-rempah yang terdapat di pulau Maluku.[16]
Sehingga Portugis menjadikan Ambon sebagai pusat kegiatannya selama di
Nusantara, pada tahun 1545-1546, Francis Xavier memulai aktivitas misionarisnya
dan menjadikan Ambon sebagai peletak dasar kekristenan di Ambon dan sekitarnya,
termasuk Ternate dan Tidore.[17]
Orang-orang Portugis di Kepulauan Maluku menyaingi para conquistador Spanyol di Meksiko dan Peru terutama dalam sifat
buruknya, sehingga Portugis gagal melakukan hegemoni di kepulauan Maluku dengan
sepenuhnya.[18]
Rakyat Ternate memperoleh kekuasaan
beberapa saat berkat kehadiran orang Portugis menjadi sadar bahwa dominasi
Barat tersebut merugikan dan menyengsarakan mereka. Pengaruh tersebut menular
ke Tidore termasuk ke seluruh kepulauan Maluku dan Sulawesi serta Papua,[19]
sehingga hubungan baik antara Portugis-Ternate melalui Serrao dan Bolief
hancur. Portugis berusaha membuat hubungan antara Ternate dan Portugis membaik,
sehingga Kapten Antonio de Brito tiba di lepas pantai Ternate pada akhir bulan
Mei, pada tahun 1522 mereka disambut oleh armada kora-kora yang membawa Wali
Raja, Pangeran Taruwese (merupakan saudara lelaki Sultan Bolief), sejumlah
punggawa istana, pemain usik, dan prajurit bersenjata lengkap. Akan tetapi de
Brito melakukan perlawanan terhadap Ternate diakibatkan oleh adanya
pengingkaran perjanjian pembuatan benteng oleh Pangeran Tawurese dan Ibu Ratu
serta menuduh Wali Raja dan Ibu Ratu tersebut secara terbuka. Perlawanan
tersebut berhasil digagalkan oleh Ternate dan de Brito segera kembali ke Goa
dengan Garcias Hendrik yang menjemputnya di Ternate pada tahun 1525.
Kapten Gonzalo Pereira tiba di
Ternate pada awal tahun 1530 dengan tiga kapal, 70 serdadu dan mandate untuk
mengadakan suatu perombakan di Ternate. Kapten Pereira mengadakan suatu
kesepakatan terhadap Ibu Ratu untuk membebaskan anaknya yang dipenjara dalam
benteng Portugis serta dapat menududuki takhta dengan syarat harus
mengantarakan hasil seluruh panen cengkeh terhadap Portugis, menyelesaikan
kembali pembangunan benteng yang belum selesai dan menegakkan kembali sistem
ekonomi yang keras. Akan tetapi, usaha tersebut gagal dan Kapten Pereira
mendapatkan perlawanan dari pihak Ternate maupun Tidore sehingga dia terbunuh
pada tanggal 27 Mei 1532. Portugis pergi dari Ternate pada tanggal 15 Juli 1575
setelah diusir oleh Sultan Baabulah akibat terbunuhnya Sultan Hairun dibunuh
oleh orang Portugis.[20]
5. Kegiatan perdagangan antara
Ternate-Tidore dengan Spanyol
Pada 6 November 1521, bangsa
Spanyol tiba di Pulau Tidore yang di komandai oleh Kapten Juan Sebastian del
Cano dengan kapal yang bernama Trinidad dan Victoria. Del Cano melanjutkan
perjalanan yang dilakukan oleh Ferdinand Magellan yang tidak berhasil sampai
pada Kepulauan Maluku diakibatkan terbunuhnya dia di Filipina pada tahun 1521
oleh Lapu-Lapu, seorang kepala suku Mactan yang terletak di Filipina karena
menolak kolonialisasi oleh bangsa Spanyol.[21]
Setibanya del Cano di Maluku, ia memamerkan persenjataan, kemewahan seremonial
dan kemurahan hati yang membuat orang Maluku menganggap bahwa orang Spanyol
setara dengan bangsa Portugis tetapi bangsa Spanyol bisa dikatakan lebih sopan
daripada orang Portugis.[22]
Orang Spanyol memamerkan barang dagangannya dan ditukarkan dengan cengkeh.
Untuk 10 ukuran tertentu kain merah yang bermutu tinggi yang berasal dari
Kalkuta, mereka menerima dengan satu bahar cengkeh (1 bahar = 600 pon) dengan
50 gunting kain merah berkualitas tinggi, tiga gong kuningan dari Spanyol
ditukarkan dengan dua bahar cengkeh. Sultan Alamansur mengirimkan hadiah kepada
Spanyol yaitu berupa kambing, unggas, ikan dan buah-buahan.[23]
Rakyat Ternate juga berusaha untuk
menjalin kerjasama dengan Spanyol sehingga rakyat Ternate menjual cengkeh
kepada Spanyol dengan harga yang murah dari yang ditawarkan rakyat Tidore
kepada Spanyol, akan tetapi bangsa Spanyol tidak membeli cengkeh yang
ditawarkan oleh rakyat Ternate karena takut akan menyinggung perasaan rakyat
Tidore.
6. Kontak Pertama Kali antara Ternate
dan Tidore dengan Inggris
Sir Francis Drake tiba di Ternate
pada tahun 1579 dan diterima baik oleh Sultan Baabulah. Drake melewati benua
pesisir Benua Amerika dan hinggap di Kepulauan Maluku.[24]
orang Inggris melayari tersebut dengan kapal Galleon yang dinamakan Golden Hind
dan empat kapal yang lain yang bermuatan harta yang mereka ambil dari armada
utama Spanyol. Sultan dan Drake merasakan adanya daya tarik timbal balik dalam
hubungan antara mereka berdua,[25]
sehingga Sultan Baabulah bersumpah untuk mengadakan persahabatan dan kesetiaan
yang kekal kepada Ratu Elisabeth. Sultan Baabulah memberikan cincin meterai
berhias batu merah delima kepada Ratu Elizabeth Tudor lewat Drake, Drake juga
memberikan meriam serta kain tekstil untuk Sultan Ternate. Orang Inggris
mendapatkan kemurahan hati dari penguasa Ternate yaitu berupa beras yang
jumlahnya banyak, ayam, tebu, gula cair yang belum diolah, buah yang dinamakan
figo , kelapa, dan tepung sagu untuk perbekalan di kapal untuk kembali ke
Inggris. Drake kemudian kembali berlayar setelah memuat sedikit cengkeh di
kapalnya.
7. Kegiatan Monopoli Perdagangan Belanda
/ VOC di Ternate dan Tidore
Pada tahun 1603, VOC melakukan
perjanjian yang abadi dengan Hitu untuk saling menghadapi musuh bersama yaitu
bangsa Portugis. Perjanjian tersebut diperbaharui pada 1609 yang memberikan
kedudukan kepada bangsa Hitu sebagai sekutu dan bukan sebagai bawahan serta
Kapitan Hitu Tepil diakui sebaga penguasa wilayah.[26]
Pada tanggal 10 Juni 1606, Belanda
berhasil mendirikan benteng pertama kali di Jailolo dan dinamakan dengan
benteng Fort Malayo dengan enam meriam kuningan di tempat laganya.[27]
Pada 1607 VOC juga membuat perjanjian dengan Ternate yang secara formal
memegang hegemoni di Seram Barat, termasuk Luhu, Kambelo, Lusidi, Hitu, dan
Maluku Selatan. Dalam kontrak itu juga VOC berhasil memperoleh monopoli dalam
perdagangan cengkeh.
Terjadi pelanggaran dalam
perjanjian yang dilakukan oleh raja-raja sehingga membangkitkan konflik dengan
VOC. Sehingga VOC mengadakan perjanjian tersendiri dengan raja-raja di Seram
Barat pada tahun 1609 dikarenakan kekuasaan Ternate sudah tak efektif lagi.
Sehingga sistem monopoli yang dipaksakan oleh VOC menimbulkan pertentangan,
penghindaran, dan pergolakan di kalangan rakyat. VOC melakukan provokasi dengan
penebangan pohon cengkeh dan pala dalam hongi-tochten (hongi yang berarti
armada atau angkatan kapal laut yang berasal dari bahasa Ternate). Kompeni
tersebut mengerahkan tenaga laki-laki untuk melakukan penebangan pohon cengkeh
dan pala yang kelebihan, reorganisasi struktur pemerintahan dengan menghapus
sistem “empat serangkai” dan jabatan
Kapitan-Hitu serta aman (satuan sosial, komunitas, gemeenschap) dipindahkan ke
daerah pantai pada tahun 1643.
Tanggal 10 Mei 1651 dilancarkan
serangan-serangan terhadap loji-loji VOC tetapi tinggal loji di Luhu yang dapat
dipertahankan oleh VOC. Loji tersebut pada akhirnya jatuh ke tangan pemberontak
yaitu di Kambelo, Assahudi, dan Lessidi. Peristiwa tersebut membuat VOC
membinasakan kebun cengkeh di daerah-daerah pemberontakan. Siasat tersebut
sesuai dengan kondisi- kondisi yang dipaksakan kepada Mandarshah dalam
perjanjian 31 Januari 1652, yaitu antara lain penanaman cengkeh di daerah dalam
kerajaan Ternate dilarang dan hanya diperbolehkan di Ambon dan daerah VOC
lainnya. Jabatan Kimelaha di Seram dihapus, daerah itu diperintah langsung oleh
gubernur VOC. VOC bebas mendirikan benteng di mana saja, melarang semua orang
asing mengunjungi daerah tersebut dan sebagai ganti ganti rugi Mandarshah
menerima 12.000 rial setiap tahun.[28]
8. Kesimpulan
Kerajaan Ternate dan Tidore
merupakan daerah perdagangan internasional yang diminati banyak bangsa terutama
pada rempah-rempah yang dihasilkan di wilayah tersebut. Ternate dan Tidore
merupakan daerah penghasil cengkeh dan pala yang terbaik dan satu-satunya yang
tumbuh di wilayah tersebut. Sehingga banyak sekali yang berminat untuk mencari
cengkeh dan pala termasuk komoditi yang lain yang telah mencuri perhatian
bangsa asing termasuk bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda yang ingin
memonopoli wilayah tersebut untuk memperoleh keuntungan dalam kegiatan
perdagangan serta di dalam negaranya.
Dengan sifat ramah dan terbukanya
Kesultanan Ternate dan Tidore telah membawakan mereka ke dalam konflik yang
berkepanjangan, seperti perlawanan dengan Portugis karena Portugis ingin
memonopoli perdagangan di wilayah Ternate serta VOC yang ingin menguasai
wilayah Ternate dan Tidore dan juga sekitarnya. VOC juga telah membakar dan
membinasakan pohon cengkeh sebagai ketidak patuhan mereka terhadap VOC dalam
melakukan perjanjian maupun kerjasama.
Daftar Pusaka
Buku
Hanna, Willard A dan Des Alwi. Ternate dan Tidore: Masa Lalu Penuh Gejolak (Jakarta: Sinar
Harapan, 1996).
Hamid, Abd Rahman. Sejarah Maritim Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013).
Kartodirdjo, Sartono. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 (Yogyakarta: Penerbit
Ombak, 2014).
Morga, Antonio de. The Phillipines Islands, Mollucas, Siam, Cambodia, Japan, and China, at
The Close of the Sixteenth Century (New York: Cambridge University Press,
2009).
Pires, Tome. Suma
Oriental dan Buku Francisco Rodrigues (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015).
Ricklefs, M.C ., Bruce Lockhart, Albert Lau, Portia
Reyes, dan Maitrii Aung Thwin. Sejarah
Asia Tenggara (Depok: Komunitas Bambu, 2013)
Sulistiyono, Singgih Tri. Sejarah Maritim Indonesia (Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional, 2004)
Tarling, Nicholas. The Cambridge History of Southeast Asia Volume 1: From Early Times to
c.1800 (New York: Cambridge University Press, 1994).
Internet
https://en.wikipedia.org/wiki/Francisco_Serr%C3%A3o
https://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Drake
[1]
Singgih Tri Sulistiyono, Sejarah Maritim
Indonesia, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional, 2004. Hal. 30.
[2]
Ibid., hal. 36.
[3]
Abd Rahman Hamid, Sejarah Maritim
Indonesia, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013. Hal. 175.
[4]
Willard A. Hanna dan Des Alwi, Ternate
dan Tidore: Masa Lalu Penuh Gejolak, Jakarta: Sinar Harapan, 1996. Hal.
1-2.
[5]
Ibid,. hal. 3.
[6]
Abd Rahman Hamid, Op. Cit.,Hal. 192.
[7]
Ibid., hal. 194.
[8]
Tome Pires, Suma Oriental dan Buku
Francisco Rodrigues, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015. Hal. 305.
[9]
Nicholas Tarling, The Cambridge History
of Southeast Asia Volume 1: From Early Times to c.1800, New York: Cambridge
University Press, 1994. Hal. 209.
[10]
Tome Pires, Op. cit., Hal. 299.
[11]
Ibid., hal. 300.
[12]
Ibid., hal. 301.
[13]
https://en.wikipedia.org/wiki/Francisco_Serr%C3%A3o, diakses pada tanggal 29 Mei 2016, pukul 09.21
WIB
[14]
Tome Pires, Op. cit., Hal. 195.
[15]
Willard A. Hanna dan Des Alwi, Op. cit.,
hal. 26.
[16]
M.C Ricklefs, Bruce Lockhart, Albert Lau, Portia Reyes, dan Maitrii Aung Thwin,
Sejarah Asia Tenggara, Depok:
Komunitas Bambu, 2013. Hal. 171.
[17]
M.C Ricklefs, Bruce Lockhart, Albert Lau, Portia Reyes, dan Maitrii Aung Thwin, Op. cit., hal. 172.
[18]
Willard A. Hanna dan Des Alwi, Op. cit.,
hal. 13.
[19]
Ibid
[20]
Ibid., hal. 89.
[21]
Antonio de Morga, The Phillipines
Islands, Mollucas, Siam, Cambodia, Japan, and China, at The Close of the
Sixteenth Century, New York: Cambridge University Press, 2009. Hal. 14.
[22]
Willard A. Hanna dan Des Alwi, Op. cit.,
hal. 18.
[23]
Ibid., hal. 21.
[24]
https://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Drake,
diakses pada tanggal 29 Mei 2016, pada pukul 14.01 WIB
[25]
Ibid., hal. 91.
[26]
Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah
Indonesia Baru: 1500-1900, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014. Hal. 206.
[27]
Willard A. Hanna dan Des Alwi, Op. cit.,
hal. 153.
[28]
Sartono Kartodirdjo.,Op. cit.,hal.
213